Resensi Buku Secangkir Kopi Karya Emha Ainun Najib
Judul
: Secangkir Kopi Jon Pakir
Penulis
: Emha Ainun Nadjib
Tebal
: 348 halaman
Penerbit
: PT Mizan Pustaka
Tahun Terbit : 2016
Cetakan
: ke- 2
Awalnya saat membaca buku Secangkir Kopi Jon Pakir ini
seperti kata Parkir alhasil aku pertamanya berpikir kalau buku ini menceritakan
tentang si Jon yang mungkin seorang tukang parkir. Namun setelah membaca
isinya, ternyata nama pakir itu berasal dari bahasa arab yaitu Fakir yang
menyesuaikan lidah orang Jawa.
Buku ini merupakan buku cetakan ke-2, cetakan
pertamanya pada tahun 1992. Buku ini menceritakan kondisi sosial masyarakat
pada masa itu yang dikemas dengan apik oleh Cak Nun atau Emha Ainun Nadjib.
Dalam buku ini mungkin Cak Nun menamai dirinya sebagai Jon Pakir yang
mengkritisi peristiwa yang terjadi disekitarnya.
Dari sekitar seratus lima puluhan kopi yang tersaji
dalam buku ini, sang koki mencoba membincangkan problem-problem masyarakat
kelas bawah (dalam arti luas) yang banyak diobrolkan di gardu-gardu, di
warung-warung, dan di tempat-tempat obrolan lain yang strategis. Lewat gaya
tulis yang khas miliknya, sang koki kadang menjenakakan atau menyeriuskan
topik-topik yang dibahasnya. Dan, ditambah dengan bahasanya yang sederhana,
efisien, dan lugas, Secangkir Kopi Jon Pakir ini dapat “diminum” oleh
siapa saja.
Buku ini membahas mengenai kondisi-kondisi yang
terjadi di sekitar kita, walaupun itu terjadi pada masa 90’n tapi rasanya
kondisi tersebut masih kita jumpai saat ini. Buku ini juga menjadi cerminan
diri, banyak sekali hal yang dapat kita pelajari dari buku ini. Kadang aku
merasa tersindir ketika membaca beberapa bagian dari buku ini, karena kadang
ada beberapa hal yang membahas mengenai prilaku-prilaku kita yang seharusnya tidak
dilakukan.
Seperti halnya ungkapan nya mengenai Hujan Al-Mukarram
yang menjelaskan mengenai kita yang seolah takut huja dan menghindari hujan
padahal manusia itu makhul waterproof yang tidak akan kenapa-kenapa bila
terkena hujan tapi sebenarnya yang kita lindungi bukanlah tubuh kita tapi
adalah pakaian kita dimana berpakaian sudah menjadi sebuah budaya. “Tapi
astaga, saya lupa. Ada yang namanya kebudayaan! Kebudayaan ialah memakai
sandal, celana, dan baju. Kebudayaan tinggi ialah memakai sepatu, jas dan dasi.
Astaga, anehnya, kalau keluar rumah tanpa alas kaki, itu tak berbuday”, halaman
135.
Dalam buku ini sajiannya sangat menarik, pembahasan
yang kadang diselingi dengan humor menjadikan kita tidak jenuh ketika membaca.
Bagian-bagian judul yang singkat juga membuat kita tidak bosan, antara judul ke
judul lagi hanya berjarak satu sampai dua lembar. Bahasanya juga tidak terlalu
berat untuk dipahami.
Walaupun buku ini merupakan buku cetakan ulang dan
situasinya pada tahun 90’n, tapi buku ini sangat cocok dibaca oleh pemuda jaman
sekarang
Namun, terkadang Cak Nun menggunakan kosa kata Bahasa
Jawa yang tidak dipahami, walaupun di beberapa bagian terdapat footnote untuk
menjelaskan makna bahasa Jawa tersebut tapi tidak semua bahasa Jawa terdapat footnote-nya.

Comments
Post a Comment