Ruang Sempit di Pengujung Tahun 2020

OPINI


Setiap dua pekan menjelang akhir tahun hampir semua orang akan menikmati perayaan tersebut dengan cara berlibur bersama keluarga dan teman-teman. Namun, angan-angan itu sepertinya harus dipikir dua kali, lantaran jumlah pasien positif virus corona di Indonesia kini mulai melonjak kembali. Data terakhir hingga Rabu (16/12/2020) malam, Indonesia mencatatkan 19.248 kasus kematian akibat virus ini. Sementara itu, kasus positif tercatat 636.154 jiwa. Menjelang libur natal dan tahun baru pemerintah menghimbau di setiap daerah untuk melakukan pembatasan dan dan kontrol terhadap masyarakat, guna menekan laju penularan virus corona.

Menjelang malam tahun baru 2021 ada alangkah lebih baik tetap di rumah. Tak bisa dipungkiri lagi pada masyarakat Indonesia yang hobinya berjalan-jalan ria di setiap libur panjang. Kerena hal itu akan menimbulkan kerumunan, dimana itu bisa menjadi momentum melonjaknya kasus positif Covid-19. Sehingga ada baiknya, tradisi libur panjang akhir tahun ini patut dipikir kembali, dicermati, dan diatur, untuk menghindari peningkatan pandemi. Dan wajar jika pemerintah menetapkan pemangkasan libur akhir tahun dan Natal, beserta pengganti cuti lebaran Idul Fitri 1441 Hijriyah lalu yang digeser tidak akan diganti atau dihapus.

Kemudian, Kementerian Agama, Kementerian Ketenagakerjaan, dan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-ARB) menetapkan bahwa tiada cuti pengganti Idul Fitri lalu yang semulanya tanggal 28 – 31 Desember 2020. Sedangkan libur akhir tahun ini ditetapkan tanggal 1 – 3 Januari 2021.

Informasi selanjutnya, terdapat hari kerja aktif diantara libur Natal 24 – 25 Desember 2020 dengan libur awal tahun baru 2021. Sehingga pekan terakhir bulan Desember tanggal 28 – 31 tetap bekerja, dengan pelaksanaan protokol kesehatan yang ketat. Bisa jadi, akan ada pelaksanaan cek poin pada 28 – 31 Desember 2020, layaknya mudik lebaran lalu. Dimana seluruh jenis armada penumpang baik umum ataupun pribadi akan dicegah dan diperiksa.

Selain di Indonesia, di seluruh dunia pun, libur panjang akhir tahun ini biasa menjadi momentum rekreasi. Namun karena adanya pandemi, pada bulan Desember 2019, sejak awal tahun 2020, lembaga kesehatan dunia World Health Organization (WHO) merekomendasikan kewaspadaan terhadap virus corona. Karena saat itu, virus ini juga membawa gejala pneumonia dari Wuhan, China. Saat itu masih menjangkiti 300 orang. Tak diduga bahwa itu telah menyebar sampai di Jepang, Korea, dan Thailand, dari orang-orang yang bepergian ke Wuhan dan beberapa belahan dunia lainnya.

Masalah ini menyebabkan banyak perusahaan dari seluruh dunia mogok memasok sarana transportasi (otomotif), tekstil dan produk tekstil dari beberapa negara, bahan pangan, sandang, dan kewisataan. Sehingga dapat memperngaruhi perekonomian global.

Lalu bagaimanakah nasib tempat wisata yang memang digunakan sebagai pembangkit ekonomi? Mereka pastinya masih tetap membutuhkan pengunjung bukan? Apalagi dimomentum yang tepat akhir tahun ini. Pasalnya Ketua Satgas Covid-19, Doni Monardo, selalu menghimbau masyarakat untuk liburan di rumah saja mengingat banyaknya lonjakan kasus Covid-19 setelah liburan panjang.

Jika kita berkaca pada kasus yang terjadi pada bulan Maret 2020, yaitu ramainya pengunjung bjek wisata Puncak, Bogor, di tengah berlakunya libur sekolah dan kerja di rumah untuk mengantisipasi penyebaran virus corona. Dimana Presiden Jokowi sempat menyampaikan arahan disaat ia memimpin rapat terbatas yang digelar di Istana seperti ditayangkan dalam laman YouTube Sekretariat Presiden pada Kamis, 19 Maret 2020. Bahwa beliau memberikan penringatan kepada masyarakat bahwa kebijakan belajar dan kerja di rumah tidak digunakan liburan ke tempat wisata.

Mendekati liburan natal saat ini, pemerintah kembali menghimbau untuk tetap di rumah saja dan tetap menjalankan protokol kesehatan. Beberapa pemerintah daerah juga menetapkan aturan untuk mengantisipasi penyebaran covid-19 dipengujung tahun ini. Sama halnya himbauan larangan mudik dan tetap di rumah saja untuk mengurangi pelonjakan kasus. Nyatanya, meskipun pemerintah sudah menetapkan himbauan sembarang kalir, rupayanya kasus lonjakan masih terus bertambah. Sepertinya himbauan-himbauan tersebut dirasa tidak tegas., sehingga sebagian masyarakat tetap nekat untuk mudik.

Lalu bagaimana dengan liburan akhir tahun ini, apakah akan sama seperti libur lebaran?

Entahlah, wabah pandemi bagai akan berlalu tanpa jejak. Dengan bar-barnya masyarakat Indonesia sepertinya ini kan menjadi hal – hal yang normal saja seperti sebelum terjadinya pandemi. Mereka masih bisa saja nekat bepergian, menjalani usaha nafkah, dan kegaiatan lainnya tanpa takut akan wabah ini tanpa rasa khawatir.

Mengingat ada garda terdepan yang sedang berjuang dalam penangan kasus ini, setidaknya sisipkan rasa empati untuk mereka. Jika ingin kasus covid-19 ini menurun alangkah baiknya liburan akhir tahun ini di rumah saja, agar bisa menjaga kesehatan diri guna terhindar dari paparan virus. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan tidak melakukan mobilitas atau mengurangi kunjungan ke lokasi yang padat kunjungan.

  

Comments

Popular posts from this blog

Kehidupan Bukan Pasar Malam Yang Menguras Mata dan Hati

Resensi Buku Secangkir Kopi Karya Emha Ainun Najib