Resensi Buku Animal Farm



Judul Buku             : Animal Farm
Penerjemah            : Bakdi Soemanto
Penyunting             : Ika Yuliana Kurniasih

Perancang sampul   : Fahmi Ilmansyah
Pemeriksa aksara   : Intan Ren
Penata aksara        : Martin Buczer
Tahun terbit          : Oktober, 2016
Penerbit                : Bentang Pustaka
Tebal buku            : iv+144 halaman
Novel ini bercerita tentang Peternakan Manor milik Pak Jones yang ternaknya ingin merdeka dari penindasan oleh Pak Jones dan karyawannya. Awal cerita dengan mimpi aneh si Babi Tua alias Major alias Willingdon si Cantik. Ia merasa akan pergi sehingga tidak akan berjumpa dalam beberapa bulan ke depan. Sebelum kematiannya si Major Tua menyampaikan hasil perenungannya selama hidup di kandang.  Dimulai dengan pertanyaan apa sih sifat kehidupan kita? Hidup yang sengsara, penuh kerja keras, dan singkat. Intinya adalah hidup seekor binatang yang supersengsara dan penuh perbudakan dan begitulah kenyataannya. Padahal tanah air Inggris subur, iklimnya bagus dan mampu menghasilkan makanan jauh lebih banyak daripada jumlah binatang yang ada.

Tetapi mengapa binatang tidak bahagia? Mengapa mereka hidup dengan sengsara? Sebab semua hasil kerja para binatang dirampok oleh bangsa manusia. Major berkata bahwa manusia adalah musuh binatang yang sesungguhnya.


Mayor memberikan pemahaman baru kepada para binatang di peternakan Manor bahwa para binatang harus merapatkan persaudaraan dalam perjuangan. Semua manusia adalah musuh dan semua binatang adalah kamerad. Apapun yang berjalan dengan dua kaki adalah musuh dan apapun yang berjalan dengan empat kaki adalah sahabat. Kaki dua musuh, kaki empat kamerad. Major pun menceritakan mimpinya bahwa Manusia sudah punah di bumi. Lalu mengajarkan sebuah lagu semacam mars yang kemudian dihafal dan diikuti oleh seluruh binatang.

Lalu, Mayor meninggal. Pesan-pesan mayor tentang manusia dicerna. Sifat yang hanya mementingkan diri sendiri tidak boleh ditiru oleh binatang, manusia yang dapat saling menyakiti dan membunuh, tidak boleh ditiru. Pidato itu menjadi sebuah pandangan hidup baru bagi para binatang di peternakan Manor.

Ada dua ekor babi bernama Snowball dan Napoleon mulai mengorganisasi pemberontakan terhadap manusia. Bukan tanpa alasan Snowball dan Napoleon mendapatkan tugas itu. Babi secara umum dikenal sebagai binatang golongan paling cerdas dan mereka berdua adalah yang unggul diantaranya.

Hingga pemberontakan pun dilakukan. Binatang dari peternakan Manor melawan manusia. Terjadi pertempuran sengit. Manusia kalang kabut karena heran, binatang yang tidak biasanya melawan, menyerang meraka. Maka terusirlah Pak Jones dan karyawannya dari Peternakan Manor. Kemudian nama peternakan diganti menjadi Peternakan Binatang oleh para binatang itu sendiri.

Binatang pun mulai mandiri dalam mengatur kehidupan mereka.  Snowball dan Napoleon menjadi pahlawan dalam pemberontakan. Untuk melanjutkan peternakan dibuatlah aturan-aturan utama. Tujuh peraturan pokok. Intinya semua binatang adalah setara. Binatang menentang atribut yang sudah dibuat manusia misalkan minum-minuman keras, tidur di ranjang, memakai pita yang merupakan lambang perbudakan dan lain-lain.

Muncul beberapa konflik yang menguji stabilitas peternakan. Snowball dianggap sebagai pengkhianat oleh Napoleon. Hak-hak khusus yang diperoleh binatang babi atas izin Napoleon. Selain itu tujuh aturan kemudian diperas menjadi satu, dan berkembang menjadi : "SEMUA BINATANG SETARA, TETAPI BEBERAPA BINATANG LEBIH SETARA DARIPADA YANG LAINNNYA".

Menurut situs wikipedia, novel ini merupakan alegori satir keadaan di Kekaisaran Rusia dan Uni Soviet. Tokoh-tokoh di dalam cerita ini sebagian besar didasarkan pada tokoh-tokoh atau institusi perlembagaan di Rusia dan Uni Soviet. Para tokoh ini bisa dikategorikan menjadi : "babi", "manusia", "kuda", dan "binatang-binatang lain".

Babi

Babi digambarkan sebagai hewan yang paling cerdas di antara hewan-hewan di Peternakan Binatang. Mereka mampu membaca, belajar hal-hal baru, dan cepat beradaptasi.

Mayor Tua - tokoh protagonis cerita. Beliau merupakan perwujudan sosok Karl Marx dan Lenin.

Napoleon - tokoh antagonis cerita ini. Ia kejam dan egois. Napoleon menindas binatang-binatang lain demi dirinya sendiri dan merebut semua kekuasaan di Peternakan Binatang. Ia mengusir rivalnya Snowball. Napoleon adalah pengibaratan dari Josef Stalin. Selain itu namanya juga diambil dari Napoleon Bonaparte, seorang tokoh diktator Negara Perancis.

Snowball - tokoh protagonis. Ia sebenarnya pandai dan simpatik. Namun ia kalah dalam perebutan kekuasaan di Peternakan Binatang dan dibuang. Ia digambarkan dari tokoh Lev Trotsky.

Squealer - juru bicara Napoleon yang pandai memelintir fakta dan menipu para binatang lainnya. Ia merupakan gambaran dari koran pemerintah Uni Soviet, Pravda yang memuluskan kebijakan pemerintah kepada rakyat Uni Soviet.

Manusia

Manusia digambarkan sebagai makhluk yang jahat, yang selalu menyiksa para binatang.

Pak Jones - pemilik awal Peternakan Manor. Ia melambangkan Tsar Nikolas II yang inkompeten dan tidak bisa mengatur pertanian.

Pak Frederick - pemilik sebuah pertanian tetangga. Ia melambangkan Adolf Hitler yang memimpin Nazi Jerman.

Pak Pilkington - melambangkan pemimpin-pemimpin negara adidaya Barat seperti Presiden Amerika Serikat dan Perdana Menteri Inggris yang oleh penulis dianggap munafik.

Kuda

Kuda digambarkan sebagai binatang yang tidak begitu cerdas. Ketiga kuda protagonis melambangkan ketiga kelas sosial.

Boxer - pekerja keras di Peternakan Hewan. Namun ia hanya diperas oleh Napoleon saja. Nasibnya tragis, setelah ia tua dan sakit-sakitan ia dijual oleh Napoleon kepada seorang tukang jagal untuk disembelih. Ia melambangkan kelas bawah, yaitu para pekerja / kaum proletariat di Uni Soviet. Kepatuhannya yang membabi-buta berujung kepada kerugian mereka sendiri dan keuntungan para pemimpin

Clover - kuda betina pasangan Boxer. Ia melambangkan kelas menengah, yaitu para pelajar yang bersimpati kepada para pekerja.

Mollie - kuda betina muda yang gemar bersolek dan makan makanan yang enak, namun setelah revolusi berlangsung, ia melarikan diri ke peternakan tetangganya. Ia melambangkan kelas atas, yaitu kaum borjuis dan bangsawan yang dimanjakan oleh sang Tsar. Setelah Revolusi Rusia, mereka melarikan diri ke negara-negara Barat.

Animal Farm merupakan karya Orwell yang begitu cerdas. Penggambaran situasi politik dalam analogi peternakan membuat novel ini benar-benar menarik. Dari yang aku tahu melalui artikel, Stalin sempat melarang peredaran novel ini di Soviet, mungkin dia memang tersindir dengan karakter Napoleon. Kalau dibaca dan dipahami, novel ini cukuplah kontroversial. Menyindir pemerintahan paling kejam di dunia membuat noevl ini benar-benar layak untuk dibaca.

Dari segi cerita, aku sebenarnya cukup puas. Pemberontakan serta masa-masa kerja dalam peternakan itu benar-benar tergambar dengan jelas dan apik. Sayangnya, ada hal yang masih mengganjal sampai akhir cerita, yakni keberadaan dari Snowball yang terusir dari Peternakan Binatang. Akhir dari novel ini pun pada dasarnya juga masih mengambang.  Bagi siapapun yang menyukai dunia politik dan ingin memahaminya dengan cara yang berbeda, Animal Farm bisa menjadi pilihan untuk anda baca.






Comments

Popular posts from this blog

Kehidupan Bukan Pasar Malam Yang Menguras Mata dan Hati

Ruang Sempit di Pengujung Tahun 2020

Resensi Buku Secangkir Kopi Karya Emha Ainun Najib