Resensi Buku Le Petit Prince
Judul :
Le Petit Prince, Pangeran Cilik
Penulis : Antoine De Saint-Exupery
Tahun Terbit : 2011
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 120 halaman
Penulis : Antoine De Saint-Exupery
Tahun Terbit : 2011
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 120 halaman
Buku Le Petit
Prince, Pangeran Cilik karya Antoine De Saint Exupery. Jadi buku
ini telah memiliki cetakan-cetakan dalam banyak bahasa asing, dari bukunya
sendiri dikatakan telah diterjemahkan kedalam 230 bahasa asing. Menurut
beberapa review buku ini merupakan dongeng karya Antoine De Saint Exupery yang
memiliki pesona tak lekang waktu dan membawa pesan mendalam bagi pembacanya.
Buku ini terlihat seperti dongeng atau cerita anak-anak, namun didalamnya
memuat pesan-pesan besar yang tidak hanya dinikmati anak-anak justru untuk
dinikmati, direnungkan, dan dijadikan pengingat bagi para orang dewasa dalam
menjalani kehidupannya. Antoine De Saint Exupery mengajak para pembacanya untuk
melihat dan mengarungi dunia melalui pandangan sederhana, lugu seperti kacamata
anak-anak, yaitu Pangeran kecil ini sendiri.
Saat membaca bab
pertama, tokoh utama langsung menceritakan tentang kisahnya saat berumur enam
tahun, dia mengeluh soal orang orang dewasa yang tidak bisa menebak gambar apa
yang sedang dia gambar. Padahal itu gambar ular sanca yang menelan gajah!
Menurutnya, para orang dewasa harusnya dapat menebak itu, tapi mereka malah
menyuruhnya untuk tidak memikirkan apakah gambar itu ular sanca terbuka atau
tertutup dan menyuruhnya belajar ilmu pasti dengan rajin karena itu lebih
bermanfaat. Dan mulai dari sini tokoh utama terus mengutarakan pemikirannya
tentang orang dewasa, yang menurutnya tidak sejalan dengan dirinya.
Seiring berjalannya waktu, tokoh utama pun beranjak dewasa. Dia pun memiliki pemikiran yang sama seperti orang dewasa pada umumnya. Hingga akhirnya pada suatu hari pesawat yang dikemudikannya terdampar di sebuah gurun sahara tak berpenghuni, ia juga sangat cemas dengan keadaannya ini karena ini persoalan hidup dan mati, tak ada banyak perbekalan, alat montir dan sebagainya. Di suatu subuh ia terbangun kaget ketika bertemu seorang anak kecil yang tak tahu dia berasal darimana. Si pilot terus semakin dekat dengan anak ini, ia juga banyak menanyakan dari mana asal dan segala tentangnya. Anak ini kemudian menceritakan tentang kehidupannya. Dia adalah pangeran cilik yang berasal dari suatu planet kecil yang ukurannya bahkan tidak lebih besar dari sebuah rumah, planet ini bernama asteroid B 612. Pilot semakin tahu tentang pangeran cilik, bagaimana kehidupannya di planet yang kecil itu, tentang pohon baobab diplanetnya, tentang bunga mawar yang dirawat diplanetnya, tentang kemurungan pangeran cilik karena hanya ada satu hiburan bersamanya yaitu kelembutan matahari terbenam yang terjadi 43 kali sehari, dan tentang perjalanannya mengunjungi planet-planet lain yang ada disekitarnya. perjalannya meliputi:
Seiring berjalannya waktu, tokoh utama pun beranjak dewasa. Dia pun memiliki pemikiran yang sama seperti orang dewasa pada umumnya. Hingga akhirnya pada suatu hari pesawat yang dikemudikannya terdampar di sebuah gurun sahara tak berpenghuni, ia juga sangat cemas dengan keadaannya ini karena ini persoalan hidup dan mati, tak ada banyak perbekalan, alat montir dan sebagainya. Di suatu subuh ia terbangun kaget ketika bertemu seorang anak kecil yang tak tahu dia berasal darimana. Si pilot terus semakin dekat dengan anak ini, ia juga banyak menanyakan dari mana asal dan segala tentangnya. Anak ini kemudian menceritakan tentang kehidupannya. Dia adalah pangeran cilik yang berasal dari suatu planet kecil yang ukurannya bahkan tidak lebih besar dari sebuah rumah, planet ini bernama asteroid B 612. Pilot semakin tahu tentang pangeran cilik, bagaimana kehidupannya di planet yang kecil itu, tentang pohon baobab diplanetnya, tentang bunga mawar yang dirawat diplanetnya, tentang kemurungan pangeran cilik karena hanya ada satu hiburan bersamanya yaitu kelembutan matahari terbenam yang terjadi 43 kali sehari, dan tentang perjalanannya mengunjungi planet-planet lain yang ada disekitarnya. perjalannya meliputi:
·
planet 1 :
pangeran cilik bertemu raja yang sangat menyukai kekuasaanya, diplanet itu
bahkan hanya ada rajanya sendiri tanpa ada rakyatnya
·
plenet 2 :
pangeran cilik bertemu seseorang yang sombong, yang sangat senang dipuji dan
dikagumi.
·
planet 3 :
pangeran cilik bertemu seorang pemabuk, pemabuk ini merasa depresi dan ingin
melupakan masalahnya dengan mabuk-mabukan.
·
planet 4 :
pangeran cilik bertemu seorang pengusaha yang kesibukannya setiap waktu hanya
berhitung dan berhitung, pengusaha ini sangat sibuk menghitung apa-apa miliknya
dan ingin terus memiliki sesuatu
·
planet 5 :
pangeran cilik bertemu orang yang pekerjaannya hanya menyalakan dan memadamkan
lentera setiap menit. orang ini melakukannya sesuai aturan yang ada.
·
plenet 6: pangeran cilik bertemu kakek kakek
yang menulis buku yang tebal, dia hanya berkutat dengan bukunya tanpa tahu
kenyataan yang dia tulis itu.
·
Bumi :
dibumi pangeran cilik bertemu dengan si pilot itu, di bumi dia mendapatkan
banyak hal baru yang tidak ditemuinya di luar angkasa tempat planetnya berada.
Pangeran
cilik menjadi hiburan dan pelajaran baru bagi pilot itu, si pilot menjadi
mengerti banyak hal bahwa melihat dan mengamati dunia tak melulu dengan sudut
pandang serius, angka, material, dan segala aturan ketat yang melingkupinya. Setidaknya
menjadi orang dewasa bisa menggunakan sudut pandang polos dan lugu dari
anak-anak, yang dengan itu dia justru bisa melihat cinta, kebaikan, keindahan,
kebermanfaatan suatu hal dengan tulus, penuh syukur, tanpa ada prasangka buruk
dan dengan cara yang membahagiakan.
Menurutku
kelebihannya dari buku ini, ada banyak makna atau nilai tersirat yang dapat
dipelajari, selain itu disajikan beberapa gambar layaknya buku dongeng sehingga
ada daya tarik tersendiri. Namun, kekurangannya saat aku membaca dialognya yang terbilang cukup berat untuk
dipahami.
Comments
Post a Comment