Resensi Buku Midah Simanis Bergigi Emas


Judul Buku   : Midah Simanis Bergigi Emas
Penulis         : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit      : Lentera Dipantara
Cetakan       : Ketiga, Juli 2003
Tebal           : 140 halaman


Diceritakanlah bahwa si Midah lahir dari keluarga terpandang, ayahnya seorang yang kaya, taat beragama. Midah menjadi anak tunggal selama 9 tahun, selama itu seluruh perhatian manusia tuanya tercurah habis hanya untuk Midah. Setelah adik-adiknya lahir, Midah pun menjadi semanusia diri, hiburan satu-satunya di rumah adalah lagu-lagu Ummi Kalsum yang sering diputar ayahnya. Midah senang menyanyi, suaranya bagus.

Suatu ketika Midah tertarik pada musik keroncong, Midah suka melihat rombongan pemusik keroncong yang mengamen dari rumah satu ke rumah berikutnya. Ayahnya tak suka Midah menyukai keroncong, tapi tentang kecintaan siapa yang berhak melarang? Midah lalu kawin dengan seorang teman ayahnya. Midah tak suka dengan pernikahannya, kelakuan suaminya yang buruk membuat Midah kabur dari rumah.

Dalam kondisi hamil, Midah mencari kehidupan di Jakarta, bermodalkan suaranya yang bagus dan kecintaanya pada musik keroncong Midah pun bergabung dengan kelompok pengamen musik keroncong. Manisnya paras Midah membuat banyak pertentangan pada kelompok pengamen musik keroncong, lalu Midah pun berniat mengganti giginya dengan gigi emas, agar lebih menarik katanya. Mulailah Midah dipanggil dengan sebutan si manis bergigi emas.

Di novel ini Pram berhasil mengemas konflik antara orang tua dan anak dengan baik. Orang tua Midah semakin kehilangan Midah, mereka tak tahu rimbanya. Mereka dipenuhi rasa penyesalan karena telah menelantarkan Midah semenjak adik-adiknya lahir. Kegelisahan mereka semakin menjadi ketika tahu bahwa Midah menjadi penyanyi pada kelompok pengamen musik keroncong, selain pergulatan batin karena mereka manusia terpandang juga pergulatan rasa bersalah.

Konflik Midah pun masih berlanjut, dia terlibat cinta dengan seorang polisi. Tetapi sayang cinta yang bertepuk sebelah tangan membuat Midah makin terpuruk, di tambah dia diusir dan kelompok musiknya karena manisnya paras Midah ternyata membawa petaka.

Midah tetap tak mau pulang ke rumah orang tuanya, baginya dirinya adalah kebebasannya. Midah menjadi seperti apa yang ia inginkan meskipun untuk menjadi dirinya itu Midah mengalami banyak kesengsaraan. Dalam novel ini Pram menekankan bahwa manusia tidak boleh menyerah pada kelelahan. Kehidupan jalanan yang liar dan ganas harus diarungi, meskipun pada akhirnya Midah memang kalah secara moral dalam pertaruhan hidupnya.

Novel ini sarat dengan amanat bahwa kita jangan mau kalah dengan kerasnya kahidupan. Jika mau berusaha Tuhan pasti akan membukakan jalan.
Kekuatan dari novel ini secara keseluruhan adalah novel ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca. Novel ini mengajarkan tentang ketabahan hidup dikerasnya Ibukota Jakarta.
Kelamahan dari novel ini diakhir cerita Midah juga tetap masuk kedalam pergaulan bebas di Jakarta.




Comments

Popular posts from this blog

Kehidupan Bukan Pasar Malam Yang Menguras Mata dan Hati

Ruang Sempit di Pengujung Tahun 2020

Resensi Buku Secangkir Kopi Karya Emha Ainun Najib