Resensi Buku The Catcher in the Rye

Judul              : The Catcher in the Rye
Penulis          : J. D. Salinger
Penerjemah  : Gita Widya Laksmini
Penerbit         : Banana
Terbit              : Cetakan ketiga, Juni 2015
Tebal              : 296 halaman
Buku ini adalah buku klasik Amerika yang terbit pada tahun 1945, kalau tidak salah. Itu sekitar setelah perang dunia, karena si penulis (J.D Salinger) adalah seorang veteran wajib militer Amerika. Sebelum membahas cerita buku ini, saya ingin komentar tentang cover bukunya terlebih dahulu. Saya pribadi suka - suka saja dengan covernya sederhana, minimalis, dan juga nyaman dilihat.
Buku ini memceritakan seorang anak remaja SMA, belum genap usia 17 tahun yang bernama Holden Caulfield. Holden ini adalah seorang remaja yang bisa di bilang pemberontak atau tidak menyukai dan tidak menyetujui banyak hal. Jadi intinya si Holden ini adalah anak sekolahan yang tidak betah dengan sekolahnya, sehingga ia pindah sekolah beberapa kali dan untuk sekolah yang terakhirnya ini, Holden mendapat surat pindah karena dia gagal untuk bersikap baik dan juga mempertahankan nilainya dengan baik.
Novel ini menceritakan bagaimana  Holden Caulfield keluar dari sekolah itu, sebelum menuju kerumahnya dia menghabiskan waktunya dengan berbagai kegiatan, itu yang di ceritakan di buku ini. Sebenernya cerita di dalam novel ini hanya berlangsung 4/5 hari an, siang dan malam di ceritakan di buku ini, dan untuk mengembangkan cerita menjadi novel yang cukup panjang, 290 halaman ini banyak sekali kejadian yang berlangsung, banyak tokoh - tokoh yang terlibat jadi narasi nya agak padat dan berat menurutku.
Bisa disimpulkan dalam satu kalimat, novel ini bercerita tentang seorang munafik (phonies) atau seorang munafik yang menceritakan kemunafikan orang lain yang dibencinya. Dari karakter si Holden sendiri cukup unik, dia itu adalah orang munafik, dia adalah salah satu 'phonies' yang sebenarnya dia benci. Dan sebenarnya dia juga tidak sadar bahwa dia sendiri juga munafik. Holden sendiri juga bingung, apakah saya munafik atau tidak, karena dia bilang "Bagaimana kita bisa tahu bahwa kita tidak jadi orang munafik? Masalahnya adalah kita tidak tahu", kalimat ini di kemukakan oleh Holden pada dirinya sendiri, itu juga mengungkapkan ketidak sadaran dia bahwa dia sebenarnya tuh munafik.
Narasi dalam novel ini melalui tokoh Holden, gaya penyampaiannya atau voice nya itu terkesan boring, yang benci banyak hal sehingga kita terbawa suasana untuk kesal kepada si Holden. Seperti yang diawal bahwa si Holden ini membenci semuanya, tapi tidak semua juga. Dia hanya pura-pura benci atau mencari celah untuk membenci hal tersebut. Saat ditanya sang adik "sebenarnya apa sih yang kakak suka?" Holden kebingungan menjawabnya dan menjawab dengan hal yang ngalor ngidul " saya suka ini bla bla bla.." yang justru alasannya itu tidak valid. Satu - satunya hal yang dia suka adalah sebuah impian/keinginan untuk bekerja menjadi "The Catcher in The Rye" Seorang penangkap di ladang jerami. 
Diceritakanlah ada suatu ladang jerami yang luas dimana tempat anak- anak bermain, berlarian, dsb. Dia akan menjadi seorang penyelamat, penangkap anak-anak tersebut jikalau seorang anak atau beberapa anak berlarian terlalu jauh dan hampir mendekati jurang, dialah yang akan menjadi penyelamat untuk anak-anak tersebut. Itu mungkin satu-satunya hal yang ia sukai, oleh karena itu judul novel ini "The Catcher in The Rye". Disini Holden lebih kalem atau tenang saat bersama anak kecil dan impian dia tadi ingin menjadi penangkap anak kecil yang berlarian terlalu jauh, kayak bisa dilihat sebenarnya tuh dia gak mau kalau anak-anak kecil itu menjadi orang yang gagal seperti dirinya, dia gak mau anak kecil itu berlarian terlalu jauh sehingga jatuh ke jurang. Mungkin si Holden ini adalah orang yang sudah berlarian yang cukup jauh dengan pemikirannya, dengan kebenciannya sehingga ia menjadi anak yang gagal (telah jatuh ke jurang). Holden tidak ingin anak-anak mengalami hal itu. Dan dia ingin melakukan itu sepanjang hidupnya untuk menjaga anak-anak kecil dari kegagalan.
Novel ini gue rekomendasiinbanget untuk di baca, khususnya para remaja ya sekedar intropeksi diri kembali bahwa kita tuh kayaknya penah mengalami masa-masa atau fase-fase seperti karakter Holden ini, kita benci dengan sesuatu. Misalnya, waktu SMA mungkin kita pernah benci sama temen sekelas, guru atau kepala sekolah hanya karena mungkin mereka cerewet padahal sebenarnya mereka tuh baik gitu. Banyak hal yang kita benci pada saat remaja dan ketika kita dewasa baru menyadari bahwa sebenernya guru itu baik sih..., sebenernya dia itu humble sih..dan sebenarnya gak ada yang pantas untuk di benci dari hal ini, dari hal itu dan hal lainnya. Karena pada akhirnya kita sadar bahwa tidak ada yang sempuna, sehingga kekurangan yang ada pada orang, pada benda, dan situasi tertentu gak lantas membuat kita benci pada hal itu. 

Comments

Popular posts from this blog

Kehidupan Bukan Pasar Malam Yang Menguras Mata dan Hati

Ruang Sempit di Pengujung Tahun 2020

Resensi Buku Secangkir Kopi Karya Emha Ainun Najib