Dimanakah Kesejahteraan Penulis?
Judul Buku: “Dari Ngalian Ke Sendowo”
Penulis: Nh. Dini
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, Mei 2015
Halaman: 268 halaman
ISBN: 978-602-03-1651-2
Buku yang bisa dikatakan sebagai jenis buku novel
autobiografis ini layaknya si penulis dalam memandang kehidupan yang pernah ia alami
atau lalui. Tentu saja, tak sekedar pengalaman yang mengesankan atau
menyenangkan yang diceritakan penulis, melainkan tentang ke ‘riweuhan’ ,
kehilangan, ketidak nyamanan dan juga kesulitan si penulis ketika menghadapi
sesuatu yang tak sesuai harapan atau yang dikehendaki penulis ceritakan dalam
alur yang cukup runtut dan jelas.
Dalam buku ini penulis menceritakan kembali hal-hal yang
pernah ia jumpai. Ia menceritakan kembali tentang tempat dan keadaan lingkungan
dengan tajam dan jernih. Kepenulisan Nh. Dini kepada sesuatu hal terlihat di
beberapa bagian, baik berupa keluhan dari suatu keadaan, kebiasaan atau budaya
tentang sesuatu yang tak sejalan dengan pola pikirnya, ia ceritakan dengan cara
yang cukup halus tapi tetap ‘menyentil’.
Nh. Dini memutuskan untuk bergabung ke dalam suatu kelompok
atau organisasi khusus bagi orang-orang berusia 50 tahun ke atas. Ia tertarik pada
yang didirikan oleh Kanjeng Ratu Hemas, istri Sultan Hamangku Buwono ke-X yaitu
Yayasan Wredha Mulya (YMW), Yogyakarta. Namun, Dini harus pindah, meninggalkan
kota kelahirannya itu.
Ditengah kondisi yang tua renta, juga diselimuti
permasalahan kehidupan dan juga kesehatan di hidupnya. Tak membuat perempuan
ini berhenti dalam menulis karyanya sekaligus menjadi pekerjaan baginya dalam
menulis. Di usianya yang senja, Nh Dini masih bisa produktif dalam dunia
kesusatraan.
Ia juga bisa dibilang sebagai sosok wanita yang mandiri juga
idealis. Realistis saja, namanya juga hidup perlu sarana. Hidup dengan kondisi
sosial yang berbagai macam bentuknya, juga di tengah-tengah jutaan manusia yang
ada di muka bumi ini, manusia juga butuh dihargai.
Sebagai manusia yang membuat cipta karsa dalam wujud sastra,
Nh. Dini sebagai salah satu penulis dan sastrawati yang mempunyai kehidupannya
jauh dari kata kesejahteraan. Sentilan kepada pemerintah darinya bahwa pengarang
sejatinya tak beda jauh dengan kehidupan petani, nelayan, bahkan buruh di
negeri ini. Hidupnya yang sangat bergantung, membutuhkan proses panjang,
pekerjaan yang tak melulu pasti, kadang ada kadang tidak untuk mencukupi kebutuhan.
Kini dunia kepenulisan di tanah air pun, bisa dibilang sangat
memprihatinkan. Sekarang, banyak karya-karya sastra kuno dan tulisan masa
mengenai sejarah kelam di Indonesia yang entah telah lenyap atau memang sengaja
dilenyapkan entah kemana rimbanya. Hal ini juga ditambah dengan sedikit yang mempedulikannya.
Memang sepertinya profesi penulis masih kalah populer dengan
profesi artis, anak-anak band, youtuber, dan profesi terkenal lainnya. Ironis sekali,
jika kita renungi sejenak juga mencermati, sejatinya bahwa ilmu pengatahuan dan
perkembangan teknologi yang ada saat ini, itu juga tak terlepas dari pengaruh jasa
seorang penulis.
Para penulis telah melahirkan berbagai ide, gagasan serta
menyumbangkan pemikirannya yang semakin mempercepat perkembangan IPTEK. Dan pada
akhirnya akan membawa peradaban bangsa yang lebih baik dan maju di masa yang
akan datang. Jika tak ada lagi orang yang mau menulis, tak ada lagi jejak ilmu
pengetahuan yang tersisa. Mungkin yang ada hanya kegelapan dan kebodohan. Oleh
karena itu, bersama kita sadarkan masyarakat agar paling tidak mengapresiasi
dan menghargai karya-karya penulis negeri. Dan tak lupa membaca buku untuk
menambah wawasan.
Kembali dalam konteks buku dengan
judul ‘Dari Ngalian ke Sendowo’ yang menceritakan perpindahan penulis dari
Ngalian, Semarang ke Sendowo daerah Yogyakarta. Penulis juga menyuguhkan serangkaian
perjalanan spiritual kehidupannya dalam buku tersebut. Memang terlalu
menjenuhkan saat membacanya tapi lain dari hal itu, pembaca tetap bisa memahami
apa yang ingin penulis sampaikan kepada para pembaca. Buku ini cocok sekali
dibaca dikalangan siapapun, terlebih bagi yang tertarik dalam bidang feminis
juga kesusastraan.

Comments
Post a Comment