Harta Tahta Ternak

 




Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta menaikkan status Gunung Merapi dari Waspada ke Siaga (Tingkat III) pada Kamis, 5 November 2020. Berdasarkan evaluasi dari data pemantauan tersebut, disimpulkan bahwa aktivitas vulkanik saat ini dapat berlanjut ke aktivitas yang dapat membahayakan penduduk.

Erupsi Gunung Merapi yang terjadi pada saat ini tentunya akan menimbulkan berbagai dampak, baik itu dampak positif maupun dampak negatif. Dampak tersebut dapat memicu perubahan sosial dan ekonomi pada masyarakat. Korban Erupsi Merapi akan mengalami kerugian salah satunya berupa material

Meskipun dampak positif akibat erupsi Gunung Merapi yang akan dirasakan nanti, namun hal ini menyebabkan perubahan sosial dimana warga yang sebelumnya rajin bekerja sebagai petani kini pekerjaan tersebut tertunda karena adanya bencana ini. Adapun dampak negatif yang akan hadir dari erupsi merapi ini korban akan mengalami kerugian salah satunya berupa material. Orang-orang yang tinggal disekitar merapi akan kehilangan lapangan pekerjaan yang dulunya sebagai petani ladang, sawah ataupun kebun karena itu semua akan tertutup dengan abu vulkanik, rumah sebagai tempat tinggal, dan juga perlengkapan hidup lainnya.

Warga yang tinggal di sekitar Gunung Merapi telah dievakuasi ke empat kabupaten, tetapi tetap menerapkan protokol kesehatan. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan (BNPB) Raditya Jati mengatakan, empat kabupaten yang menjadi tempat evakuasi adalah Boyolali, Magelang, Klaten, dan Sleman. Sebagian besar warga yang dievakuasi merupakan kelompok rentan, seperti lanjut usia, anak-anak, balita, ibu hamil, disabilitas dan ibu menyusui.

BNPB akan menjamin kebutuhan makan dan minum para warga terpenuhi. Para sukarelawan di lokasi evakuasi terus membantu untuk menyediakan kebutuhan pokok seperti beras, sayuran, kemudian tempat memasak makanan di dapur umum atau pun di mobil dapur lapangan, terutama pengawasan atau monitoring yang ketat termasuk testing dan tracing jika dibutuhkan di lokasi pengungsian.

Namun tak semua dari mereka mengungsikan diri, mereka lebih ingin tinggal bersama ternaknya. Terutama kelompok masyarakat yang masih usia produktif yang masih tetap tinggal karena alasan menjaga dan mengurus ternaknya. Mereka khawatir jika ternak mereka pindah ke tempat pengungsian akan mengalami stress. Hanya ternak wargalah yang menjadi salah satu harta berharga bagi warga lereng Gunung Merapi wilayah Klaten.

Sudah menjadi sesuatu yang lumrah bagi masyarakat desa mempunyai ternak sapi dan hewan lainnya atau budidaya hewan, hal tersebut mereka lakukan diantaranya untuk menghasilkan sumber pangan, sumber bahan baku industri, atau dipelihara untuk membantu pekerjaan manusia. Adapun juga peternakan yang digunakan sebagai alat usaha untuk memelihara dan mengembangbiakkan hewan ternak.

Selain itu tujuan utama dari berternak ialah untuk menghasilkan manfaat ekonomis. Adanya kemampuan mengubah pakan menjadi hasil ternak seperti produksi susu, daging, telur, dan tenaga ini dapat menjadi nilai tambah bagi si peternak. Hal ini tentu saja akan menjadi sumber penghasilan dan bahkan tabungan bagi peternak.

Manfaat lain mereka mempunyai ternak tentunya sangat berperan dalam kehidupan sosial, seperti hewan ternak bisa menjadi simbol atau status sosial pada masyarakat baik melalui upacara keagamaan, upacara adat, perkawinan, hingga pada masyarakat primitif yang menggunakannya untuk sesajian.

Meski begitu, keadaan erupsi Gunung Merapi membuat masyarakat atau peternak berpikir keras dan memutar otak. Bagaimana caranya mereka untuk mencukupi kebutuhan hidup di tengah keadaan seperti ini dan mahalnya biaya hidup saat ini.  Semakin lama status Gunung Merapi semakin meningkat, kemungkinan nanti seluruh warga lereng Gunung Merapi mengungsi disaat erupsi adalah kewajiban. Sehingga mereka membekali hidupnya dengan menjual hewan peliharaan mereka, bahkan dengan harga separuh harga dari yang seharusnya. Hasil dari penjualan sapi atau hewan ternak mereka gunakan untuk uang saku mereka ketika berada di tempat pengungsian.

Sempat terhenti sejenak karena pembangunan kandang ternak warga untuk tempat evakuasi ternaknya di wilayah lereng Gunung Merapi. Hal tersebut pemerintah dinilai cukup lambat dalam melakukan evakuasi terhadap hewan ternak. Namun, Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman, Heru Saptono, dilansir dari SuaraJogja.id. menuturkan jika sarana dan prasarana pendukung yang diperlukan di kandang akan segera dilengkapi. Pihaknya sudah melakukam koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman untuk bisa membantu memberi dukungan terkait dengan kelengkapan kandang.

Dari hal tersebut membuat sebagian warga menyesal karena telah menjual sapi atau ternaknya yang lain. Karena ternak memang sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Oleh karena itu semestinya pemerintah lebih bisa lebih tanggap dalam melakukan penanganan terhadap evakuasi ternak saat bencana gunung merapi. Bahkan Gurbernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X ketika mengunjungi warga Merapi di Sleman, beliau menyatakan bahwa ternak juga perlu diselamatkan dan jangan sampai menjadi ternak ikut menjadi korban. Sayangnya permasalahan evaluasi ternak belum banyak yang memperhatikan dalam upaya evakuasi ternak.

Dengan demikian, diharapkan pihak yang terkait dalam penanganan bencana ini dapat membuka kesadaran baik kepada dirinya sendiri dan juga pada publik bahwa ternak juga menjadi hal penting yang perlu diselamatkan, dalam konteks menghadapi kemungkinan letusan Gunung Merapi.

Comments

Popular posts from this blog

Kehidupan Bukan Pasar Malam Yang Menguras Mata dan Hati

Ruang Sempit di Pengujung Tahun 2020

Resensi Buku Secangkir Kopi Karya Emha Ainun Najib