Membangun Soldaritas Saat Pandemi Covid-19

Opini


Dalam koran kompas.id Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyatakan, bahwa masa depan Indonesia milik bersama sehingga para elite dan warga juga turut bertanggung jawab dalam menjaga. kepentingan pribadi juga umum, serta tak boleh merusak sistem berbangsa dan bernegara.

Semua polemik yang dialami bangsa harus diakhiri segera, dimana seluruk pihak atau kompenien harus menjalani keadaban publik. Dimana kedaban publik itu bisa berarti struktur fungsional baik antara pemerintah dan juga juga masyarakat harus besinergi satu sama lain dalam memerangi masalah yang hadir selama pandemi ini.

Misalnya, hingga saat ini pelaksanaan protokol kesehatan di masyarakat masih sangat memprihatinkan. Sebagian dari mereka untuk menjalankan protokol kesehatan (memakai masker, jaga jarak, cuci tangan, dan lainnya) masih rendah. Bahkan, cenderung mereka abaikan. Terlebih saat ini aktifitas dan akses publik sudah normal kembali, namun dari beberapa penelitian yang menunjukkan lebih dari 85 % masyarakat masih mengabaikan protokol kesehatan di tempat umum. Terlebih saat ini aktifitas dan akses publik sudajh berjalan normal kembali.

Rendahnya kesadaran akan protokol kesehatan tidak hanya menyebabkan banyaknya pasien yang terinfeksi Covid-19, tetapi juga bisa mempercepat  penularan, juga kematian akibat Covid-19. Laju penularan yang diukur dengan positive rate menunjukkan angka 13 % (standar WHO di bawah 5%) dan rerata fatality rate sebesar 4,7 %, bahkan pernah menyentuh 8,6 % (rerata dunia 3,7%). Kondisi yang demikian menjadikan Indonesia sebagai negara yang kurang berhasil dalam pengendalian Covid-19.

Untuk menciptakan kepatuhan dalam menjalankan protokol kesehatan bisa dilihat tiga faktor, yakni faktor masyarakat, pemerintah, dan pola komunikasi. Ketiga faktor tersebut bisa kita terapkan dalam soslidaritas solsial. Di tengah kondisi mewabahnya virus covid-19 di Indonesia, pihak pemerintah kota sampai Rukun Warga sekitar terus menyerukan patuh terhadap protokol kesehatan selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) berlangsung.

Selain adanya pembatasan sosial tersebut kita juga harus menerapkan solidaritas sosial. Karena negara tidak mungkin bisa menyelesaikan masalah wabah ini sendiri, negara juga butuh bantuan masyarakat. Solidaritas sosial di saat ini adalah sudah menjadi kebutuhan. Seperti menolong tetangga dan lingkungan terdekat adalah bagian dari bela negara kita saat perang melawan covid ini. saling mengingatkan satu sama lain untuk senantiasa menjaga kesehatan, membantu warga lainnya yang sedang dalam kesulitan ekonomi dan lainnya.





Semua elemen mungkin telah menunjukkan eksistensinya menjadi bagian dalam pencegahan dan penanganan virus corona. Dan semua merasa punya andil dan rasa kepedulian pada kenyataannya yang ada saat ini. Kepedulian itu sudah harus diikat dalam sebuah kata yang bernama “Solidaritas”. Seperti pendapat Emile Durkheim, dimana beliau membagi solidaritas menjadi dua tipe, yaitu solidaritas mekanik dan solidaritas organik. Solidaritas mekanik terlihat lebih mengikat masyarakat oleh kesamaan. Sementara itu, solidaritas organik mengikat masyarakat oleh perbedaan.

Maka dalam kondisi pandemi ini semua potensi masyarakat yang ada daerah atau wilayah manapun maupun. Bahkan kota metropolitan sekalipun baik yang berjalan secara individu maupun yang berjalan secara kelompok harus tetap menyatu dalam perbedaan masing-masing. Seperti tindakan dari pemerintah setempat dalam mengatur masyarakat dengan kebijakan publik yang ada agar kasus positif Covid-19 berkurang. Lalu dari tenaga kesehatan baik dari rumah sakit maupun puskesmas serta relawan dari masyarakat turut membantu dengan memberikan penanganan dan pencegahan secara langsung terhadap virus sampai pada masyarakat individu atas kesadaran memproteksi diri. Serta dibantu dari tingkat Rukun Warga sampai Rukun Tetangga sekitar turut andil dalam mengatur dan juga melakukan pengawasan ketat terhadap warganya. Tak lupa turut membantu dari segi ekonomi ataupun penjagaan jika ada salah satu warganya ada yang tengah menjalani isolasi mandiri.

Oleh karena itulah, saat ini kita harus mengikat diri dalam solidaritas organik. Karena dengan solidaritas organik adalah ciri masyarakat modern, termasuk di kota besar. Semua lapisan masyarakat yang berbagai macam ragam profesinya harus menunjukkan kesatuan komando. Hal ini bukan hanya tentang perlawanan terhadap Covid19 saja namun juga tentang the new normal area. Kita juga harus siap bahwa setelah Pandemi ini berlalu, maka kondisi kita tidak mungkin lagi sama pada saat sebelum Pandemi ini ada.

 


Comments

Popular posts from this blog

Kehidupan Bukan Pasar Malam Yang Menguras Mata dan Hati

Ruang Sempit di Pengujung Tahun 2020

Resensi Buku Secangkir Kopi Karya Emha Ainun Najib