Penemuan Makna Hidup dalam Penyimpangan

 




Judul           : Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

Penulis         : Eka Kurniawan

Penerbit      : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: Mei 2014

Tebal           : 243 halaman

ISBN           : 978–602–03–0393–2

 

Melalui dua bukunya, Cantik itu Luka (2002) dan Lelaki Harimau (2004) Eka Kurniawan selalu menyelipkan nafsu (erotisme) dalam realisme. Begitupun pada bukunya Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas (2014).

Eka selalu berusaha mengajak pembaca untuk berpikir atau berkompromi pada makna ‘cinta tanpa logika’ dan juga penulis berusaha mengajak pembaca untuk merenungi kedamaian sesungguhnya melalui perlawanan terhadap hasrat seksual manusia. Seolah-olah dirinya mengajukan pernyataan kalau dorongan berahi kerap kali mengambil alih moralitas manusia. Gagasan tersebut dapat dibenarkan ketika kasus Iteung yang merupakan kekasih dari tokoh utama yaitu Ajo Kawir yang pernah dicabuli oleh gurunya serta dengan selingkuhannya Iteung yaitu Budi Baik.

Seperti ciri khas dari seorang penulis termasuk Eka Kurniawan yang selalu menceritakan kejadian erat dalam kehidupan sosial masyarakat menengah ke bawah, memang ada dan nyata. Selain itu juga penulis ingin menyampaikan pandangannya terhadap ketidakadilan perlakuan yang diterima oleh perempuan yang selalu dijadikan objek oleh lelaki (tak perduli walaupun kondisnya tidak waras), dan lelaki bergerak atas keinginan kemaluannya, bukan otaknya.

Sebelumnya buku ini lebih membahas pada tokoh utama yaitu Ajo Kawir, dimana ia bisa dibilang impoten. Ajo Kawir kerap kali merasa kesal atas apa yang menimpa dirinya terhadap ‘barang’ yang ia miliki. Lalu ia melampiaskannya dengan menjadi orang yang hidup anarkis, sering melakukan tindak kriminalitas seperti bertengkar juga pembunuhan.

Jika kita pahami dalam tingkah perilaku sosial yang terjadi dalam buku tersebut, terdapat degradasi moral. Degradasi moral ialah merosotnya atau penurunan moral sesorang. Perilaku yang digambarkan oleh Eka melalui Ajo Kawir, Iteung, Budi Baik, dan beberapa tokoh yang dinilai penting dalam masyarakat juga digambarkan dalam buku tersebut.

Adanya pertengkaran, pembunuhan, lalu dari seorang guru terhadap muridnya mencerminkan bahwa masih adanya degradasi moral pada seseorang. Dimana seorang atau individu tidak menjalankan atau mengikuti aturan yang menjadi acuan masyarakat agar hidup sesuai dengan aturan atau nilai yang sudah ada dengan baik sehingga mereka berperilaku menyimpang.

Bahkan bukan hanya dari seseorang atau individu saja yang menyebabkan seseorang bisa berperilaku menyimpang. Namun lemahnya dari suatu sistem fungsionalis yang mengatur masyarakat bisa menyebabkan seseorang berperilaku menyimpang. Misalnya yang digambarkan dalam buku tersebut melalui tokoh Guru dan Polisi yang mempunyai peran atau status penting dalam masyarakat, ternyata citra mereka tidak sebagus itu. Disinilah adanya penggambaran jika ada struktur fungsionalis yang tidak berjalan semestinya maka akan berdampak hal buruk dalam masyarakat.

Seperti dalam kasus bulan September 2020 yang lalu, Seorang guru BK berinisial HB (53) mencabuli muridya (13) di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Pelaku akhirnya mengakui perbuatannya karena khilaf. Lalu masih pada bulan yang sama seorang oknum anggota kepolisian di Pontianak telah melakukan pemerkosaan pada gadis 15 tahun. Polisi yang berpangkat brigadir tersebut telah ditetapkan sebagai tersangka dan telah menjalani proses peradilan kode etik profesi dan terancam dipecat dari institusi.

Seorang guru, polisi atau peran penting dalam masyarakat yang dianggap baik, dan dapat memberikan pengayoman bagi masyarakat ternyata tak semua bisa dinilai seperti itu. Dari kasus tersebut membuktikan bahwa masih adanya kasus serupa yang terjadi di masyarakat. Adanya struktur fungsionalis yang tak berjalan dengan baik, bisa dinilai serta dilihat dari perilaku serta pengananan suatu institusi. Ternyata bukan hanya dari sosok orang bisa seperti Ajo Kawir, Iteung, dan lainnya yang bisa dinilai sebagai pelaku tindak kriminalitas saja, tetapi suatu orang yang punya jabatan penting sekalipun tentu saja ada.

Tentunya dari seseorang akan bertanggung jawab atas apa yang mereka perbuat, jika seseorang melakukan kesalahan tentu ia akan dihukum hingga jera. Disinilah puncak spirtualisme Ajo Kawir terjadi, dimana ia berusaha untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi mencoba untuk menerima apa yang sudah terjadi.

Buku Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas ternyata bukanlah kisah yang serumit dari dua buku Eka sebelumnya. Makna yang tersampaikan juga tersirat, pasalnya pembaca perlu menafsirkan pesan yang dimaksud melalui tokoh utama Ajo Kawir. Pembaca juga harus jeli dengan pembagian tokoh yang cukup banyak dalam novel. Buku ini terkesan lebih sederhana dengan bahasa yang ringan. Tetapi, dalam penceritaannya dengan alur mengacak-acak atau maju mundur sehingga membuat pembaca sedikit kebingungan layaknya menyusun sebuah puzzle.

Memang pada awalnya pembaca akan dikejutkan oleh kata yang digunakan Eka Kurniawan cukup vulgar dalam novel ini. Bahkan penggambarantokoh dalam tersebut dinilai sangat berani. (Dengan kata lain, sebaiknya novel ini dibaca oleh mereka yang sudah berusia 21 tahun ke atas). Itu kembali lagi ke selera masing-masing, tentang bisa atau tidaknya pembaca menikmati tulisan Eka Kurniawan yang sangat berani memilih kata yang kelewat sopan. Namun menurut saya pribadi, tulisan Eka Kurniawan sangat unik dengan memilih hal yang tak biasa untuk dijadikan perumpaan dalam mengenal makna hidup.

 

Comments

Popular posts from this blog

Kehidupan Bukan Pasar Malam Yang Menguras Mata dan Hati

Ruang Sempit di Pengujung Tahun 2020

Resensi Buku Secangkir Kopi Karya Emha Ainun Najib