Kalah dengan Kekuasaan dan Uang
Judul
: Entrok
Penulis
: Okky Madasari
Ilustrasi dan sampul :
Restu Ratnaningtyas
Penerbit
: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : April, 2010
Tebal
buku
: 288 halaman
ISBN
: 978-979-22-5589-8
Buku
Entrok karangan Okky Madasari, menggambarkan perjuangan seorang perempuan
dari kelas bawah bernama Marni yang bermula pada keinginan untuk memiliki
entrok atau bra, dimana ia berusaha untuk mendongkrak status sosial yang ada.
Namun ibunya menentang dengan alasan “perempuan ya kerjanya mengupas
singkong dan diupah singkong”, sehingga dari situ tak mungkin jika ia akan mendapatkan
uang, untuk makan saya masih susah. Hal ini justru membuat Marni tak tinggal
diam. Ia meyakini bahwa, perempuan juga berhak diupahi uang selayakya laki-laki
yang bekerja lalu menghasilkan uang.
Dari
buku ini, Entrok menceritakan bagaimana perjuangan Marni sebagai seorang
perempuan yang berusaha untuk mematahkan asumsi bahwa perempuan hanyalah
makhluk yang lemah. Marni pun berhasil membuktikannya dengan mengumpulkan uang
dari pekerjaan yang identik dengan kaum lelaki. Disini Okky berhasil mengangkat
satu sisi feminis, bahwa perempuan di Indonesia bisa mendobrak budaya
patriarki.
Selain
sisi feminis, penulis mengadirkan unsur keperyacaan pada orang Jawa yang sudah
menjadi tradisi sejak dahulu. Jika ditarik pada zaman modern ini, dengan segi
pendidikan dan pola pikir yang berbeda, membuat orang yang terlalu mudah untuk
menghakimi dan menyepelekan kepercayaan-kepercayaan yang sudah ada sejak zaman
dulu. Padahal, kepercayaan tersebut sudah mendarah daging dan dianggap
sebagai satu hal yang benar dan sakral untuk dilakukan bagi orang Jawa.
Adapun
pembahasan sensitif yang diangkat oleh penulis, yakni politik. Dengan latar tahun
1950 hingga awal tahun 1999an, membuat pembaca menelusuri sejarah kelam
Indonesia yang masih sensitif untuk dibicarakan, seperti isu tentang PKI.
Lalu, kisah penangkapan masyarakat yang memberontak pada pemerintah, dan tak
pernah kembali. Juga gambaran kekejaman dan kesewenang-wenangan penguasa
yang seenaknya menggunakan jabatannya untuk menindas kaum yang lemah.
Dengan kekuasaan dan materi yang dimilikinya semua masalah bisa terselesaikan
dengan mudah.
Dimana
kekuasaan yang digambarkan dalam buku ini, yang menjadi sebuah pegangan yang
kuat untuk menguasai suatu tatanan. Segalanya dapat dilakukan oleh pemegang kekuasaan
tersebut. Bagi yang tidak mempunyai kekuasaan, mereka tidak dapat berkata -
kata dan hanya bisa menuruti segala perintah dari para kelompok elit yang
memegang kekuasaan. Ibarat kehidupan bernegara ini, rakyat tidak bisa berkutik
ketika para kelompok elit sudah memberikan sebuah aturan. Konflik akan terjadi
ketika rakyat tidak setuju dengan keputusan yang dibuat para kaum elite.
Layaknya
sebuah drama korea yang sedang populer saat ini dengan judul The Penthouse: War
In Life, meskipun hanya fiktif belaka, namun drama ini dapat menyindir para
penguasa elite di Korea Selatan, dan dimanapun orang yang menonton drama ini,
termasuk Indonesia. Drama ini menggambarkan pertempuran antar penguasa elite untuk
saling menunjukkan kekayaan dan kekuasaan di suatu tatanan sosial. Selain itu,
sikap para penguasa elite yang kerap kali memanfaatkan kekuasaanya dalam
menyelesaikan suatu masalah dengan koneksi yang ia punya, seperti penyuapan
uang.
Dari
hal tersebut, keterkaitan antara drama dan buku ini dapat membuat saya emosi.
Dimana keduanya sama-sama menunjukan jika orang lemah atau kelas bawah akan
kalah dengan uang dan kekuasaan. Tak
berbeda jauh bukan dengan kehidupan perpolitikan Indonesia saat orde baru
hingga saat ini. Dengan teknik tersebut, penonton drama dan juga pembaca buku Entrok
diajak untuk memahami bagaimana perasaan dari masing-masing tokoh dan bagaimana
cara mereka menyikapi masalah.
Kembali pada buku karya Okky ini, setelah membaca buku tersebut, setidaknya dapat membuat pembaca sadar bahwa sebagai penerus bangsa, diharapkan untuk membuat suatu perubahan, baik perdamaian, kesetaraan dan kesejahteraan
sosial kedepan yang lebih baik lagi kedepannya.
Terlepas
dari berbagai pelajaran yang dapat diambil, nyatanya saya masih merasa ada yang
kurang dari Entrok. Ekspetasi diawal dari cover buku hingga judulnya,
justru jauh berbeda saat dibaca. Bagi saya, entrok sendiri dalam buku ini
tidaklah hidup sampai akhir, sehingga cukup membingungkan pembaca anatra
keterkaitan judul dengan isi buku.
Namun,
yang membuat novel ini menjadi menarik adalah hadirnya beberapa tema besar yang
mewarnai buku ini dengan menghasilkan kisah yang utuh, unik dan mengalir. Buku
ini juga menuliskan arti dari istilah Jawa sehingga dapat memudahkan pembaca
yang tidak mengerti untuk memahaminya.
Entrok merupakan
buku yang kesekian kalinya membuka mata saya atas berbagai macam ketidakadilan
sosial pada negara ini. Setidaknya, buku ini menjadi pengingat bahwa
negara yang begitu besar ini, menyimpan sisi kelam yang tidak dapat ditunjukan.
Pada akhirnya, buku ini masih tetap layak untuk dibaca dan bagi siapapun yang
ingin mengetahui serta memahami pergolakan sosial yang terjadi pada masyarakat
Indonesia, dan dapat membuka wawasan anda.

Comments
Post a Comment