Wherever There is Capitalism

 Hakikat manusia salah satunya yaitu bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dari jaman manusia purba pun sudah ada kegiatan bekerja seperti berburu dan meramu, kemudian mereka menetap untuk cocok bercocok tanam, bertani, dilanjutkan dengan berjualan, dan terus menjadi buruh sampai di jaman yang serba modern seperti saat ini yang beragam jenis bentuknya. Bisa mulai dari menulis, menggambar, bahkan untuk berkembang biak pun, dan lain-lain juga bisa disebut kerja. Karena itulah manusia memang harus bekerja untuk bertahan hidup.


Dimasa yang akan datang ada kalanya saya akan bekerja, terus terang saya tidak suka apabila dipaksa bekerja hanya karena saya harus bertahan untuk hidup, saya ingin bekerja tanpa ada penekanan atau paksaan dari atasan. Dalam hati saya hanya tertawa kecil dan berpikir, apakah ada pekerjaan yang seperti itu?

Sedikit bercerita, ayah saya adalah seorang buruh pabrik di kota metropolitan, Tangerang. Sudah hampir 25 tahun ia bekerja di bawah tekanan atasannya, belum lagi perihal penghasilan yang tak sebanding dengan jumlah tenaga yang sudah ia keluarkan. Ya, katanya sedih rasanya menjadi buruh. Bekerja di ruang yang besar dengan ratusan bahkan ribuan buruh yang lain membuat ia terasa sesak melakukan pekerjaan ditambah berada di dalam ruangan yang panas dengan temani mesin-mesin besar yang kemungkinan bisa mencelakai dirinya sendiri. Tak terbayang jika saya menggantikan posisinya, mungkin sudah mengeluh dan menangis ingin keluar dari tempat yang buruk itu.

Terigat pesan darinya “jangan sampai anak serta cucuku bekerja seperti diriku”. Ia sadar bahwa dirinya tidak mau harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga termasuk dalam membiayai pendidikan anak-anaknya, memang butuh berjuangan agar tak bernasib sama seperti dirinya. Terlebih lagi kehidupan di kota metropolitan bukanlah perihal yang mudah, banyak perubahan yang terjadi sesuai kondisi sosial dan sejarahnya. Seiring berjalannya waktu manusia juga akan hidup berdapingan dengan segala macam perubahan yang ada.

Sadar akan perubahan yang terjadi, hampir semua pekerjaan saat ini termasuk profesi ayah saya (buruh) yang melakukan proses produksi, bukankah itu kapitalisme?
Ya memang, kapitalisme adalah kondisi di mana orang dipaksa untuk bekerja menjadi buruh atau karyawan, nelayan, petani, bahkan wirausaha. Dosen Sosiologi saya berkata “setiap manusia pasti butuh uang, ingin sesuatu yang penting ada uang. Kini uang sudah merajai kapitalisme, orang -orang luntang lantung, kerja sana sini untuk mendapatkan uang. Kapitalisme itu dilakukan hanya untuk memproduksi barang sebanyak banyaknya dan mencari keuntungan yang sebanyak-bayaknya”. Wah! Betapa tercengangnya hati ini mendengar kalimat tersebut. Lagi-lagi terlintas di benakku tentang ayah yang selama bekerja telah menjadi korban kaum investor.

Andai saja mulut ini bisa berbicara untuk menuntut keadilan kepada kaum penguasa termasuk pengusaha. Agar para buruh bisa hidup sejahtera dengan memperoleh hasil sesuai dengan tenaga yang telah dikeluarkan. Paling tidak membiarkan para buruh untuk merehatkan tenaganya dari tuntutan-tuntutan pekerjaan itu. Dan Anda saja para kapitalis itu bisa bangkrut atau berhenti menyiksa kaum buruh.

Mungkin hanya saat – saat pandemi covid-19 inilah yang sudah menyerang seluruh dunia sebagai titik nadirnya para kapitalis. Karena pandemi ini semua aktivitas pekerjaan dialihkan ke rumah bahkan ada yang berhenti bekerja. Segala kegiatan produksi, distribusi atau impor dan ekspor sulit untuk dilakukan. Pasti para pengusaha akan mengalami kerugian bahkan bangkrut dalam menjalani bisnisnya. Bayangkan bila hal itu terjadi selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, serentak terjadi di seluruh dunia.

Menipisnya modal yang didapat pengusaha dari keuntungan selama produksi akan berkurang. Lalu, seluruh aset fisiknya berupa tanah, pabrik dan sarana produksi lainnya akan kembali menjadi potensi murni. Potensi yang tidak bisa direalisasikan menjadi kekayaan selama pandemi ini berlangsung. Bisa disebut saat-saat seperi ini merupakan penghentiannya bagi kaum kapitalis yang membuat kapitalisme memasuki masa diambang kerugian bisa disebut masa sesak nafasnya.

Bicara soal kapitalisme kurang afdol jika tidak mengutip kata-kata bapak Karl Marx, “nilai kerja perlu ditentukan oleh nilai semua barang yang dibutuhkan tenaga kerja agar ia dapat bertahan hidup.

Terus terjadi sampai kapan? Bukankah kapitalisme itu sendiri sangat sulit untuk dihilangkan, terlebih hidup ini memang berdampingan dengan kapitalisme. Melihat kenyataan yang ada membuat diri ini menjadi benci akan kejahatan kapitalisme. Terlalu naif memang diri ini jika terus berapi-api untuk meluapkan kebencian terhadap kaum kapitalis, padahal perlu disadari bahwa diri ini mungkin bisa melukai kaum tersebut. Ya, disini saya mencoba untuk berpikir dan menyadari bahwa selama saya hidup memang selalu menggunakan barang ataupun produk dari kapitalis itu sendiri.

Memakai pakaian bermerek, berbelanja lewat  online  ataupun  offline , bahkan sampai menggunakan transportasi umum pun mungkin ada sistem monopoli yang tanpa disadari bahwa itu bagian dari kapitalisme yang hanya ingin meraup keuntungan. Ditambah dengan adanya media sosial yang dapat membuat seseorang untuk hidup sesuai perkembangan jaman atau tren .  Tak soal sikap manusia yang tak pernah merasa ketinggalan, banyak maunya dan iri terhadap seseorang sehingga mudah mempengaruhi gaya hidup kapitalis.

Tak bisa dipungkiri bahwa diri ini masih sulit untuk jauh dari kapitalisme, namun jika terus menerus hidup seperti ini tidak ada jiwa kapitalisme itu akan tetap melekat. Lalu bagaimana cara melawannya atau menghilangkannya? Untuk menghilangkannya seseorang pernah berkata “menolaklah pada kemauan dan berkata tidak pada kemauan”. Maksudnya dari hal tersebut adalah berpuasa untuk menahan nafsu dari apa yang kita inginkan. Misal, ingin membeli baju atau sepatu bermerek dan makan makanan apa yang kita sukai namun hal itu kita tahan dan berkata tidak, kecuali dikasih orang ada baik diterima dong masa ditolak kan sayang.

Selanjutnya, soal menahan nafsu duniawi mulai dari harta serta gaya hidup yang berlebihan dan dari hal tersebut setidaknya membuat kita sadar akan sikap berpuasa dengan menahan nafsu duniawi yang harus ditanamkan sedari kecil. Tentu banyak keinginan yang kita inginkan agar diri ini merasa puas, mungkin untuk orang yang mampu dan bergelimang harta bisa saja keinginannya terpenuhi dalam sekejap mata. Lalu apa kabar dengan orang yang tidak mampu dan hidup pas-pasan? 


Bukan bermaksud untuk menggurui, namun ada baiknya jika sedari kecil kita belajar untuk hidup sederhana, apa adanya, menghargai jasa orang lain, dan berkata  tidak  pada apa yang kita inginkan. Karena dengan menanamkan sikap yang seperti itulah kita bisa mengendalikan diri kita untuk menahan diri dari segala hal yang berbau kapitalisme. Meskipun kapitalisme akan terus berlangsung dan berdampingan dengan kehidupan ini setidaknya diri ini mencoba untuk melawan kapitalisme.

Comments

Popular posts from this blog

Kehidupan Bukan Pasar Malam Yang Menguras Mata dan Hati

Ruang Sempit di Pengujung Tahun 2020

Resensi Buku Secangkir Kopi Karya Emha Ainun Najib