Kehidupan Bukan Pasar Malam Yang Menguras Mata dan Hati
Judul
Buku : Bukan Pasar Malam
Pengarang
: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit
: Lentera Dipantara
Tebal
: 104 halaman
Cetakan
: ke-7, tahun 2009
Buku
Bukan Pasar Malam karya Pramoedya Ananta Toer ini menceritakan tentang seorang
laki-laki yang akan kembali ke kampung halamannya karena sang Ayah sakit.
Cerita ini lebih banyak merujuk pada kisah hidup sang ayah yang berprofesi sebagai
guru. Ayahnya terkena TBC, keluarganya hidup dengan kekurangan ditambah kondisi
rumah tua-nya yang tak sudah terlihat akan roboh. Diceritakan bahwa sang ayahnya
dulu adalah seorang gerilyawan di masa penjajahan.
Namun
hidup pada pasca kemerdekaan sang ayahnya harus menemui realita yang cukup
membebaninya. Ayah melihat kawan-kawannya yang bergerilya dulu, sibuk merebutkan
kekuasaan dan harta. Tetapi sang ayah lebih memilih menjadi guru, membawa
anak-anak didiknya berjiwa patriotisme. Beliau memang agak idealis, ia tak tahan
melihat kawannya yang gila akan kekuasaan. Namun apa daya, kondisinya, kini ia
hanya bisa memendam semua kekecewaannya dan jatuh sakit.
Dikondisi
aah yang seperti itu, buku ini terus mengingatkan pada kematian. Maka tak
jarang para penggemar karya Pram menyebutkan bahwa buku ini adalah salah satu
buku yang memiliki jiwa spiritualis, yang menyorotkan pada masa sekarat yang
ayah tengah alami. Mungkin karena itu buku ini di beri judul Bukan Pasar Malam.
Dimana konotasinya pasar malam adalah tempat yang bisa kita datangi dan pulang
secara ramai-ramai. Namun, penggambaran judul tersebut ialah kehidupan ini tak
seperti pasar malam, kita (datang) hidup sendiri dan (pulang) mati sendiri.
Kembali
pada pembahasan buku, tentang tawaran Ayahnya yang sudah menjadi rahasia umum
sampai sekarang para pemimpin-pemimpin perang gerilya pasca perang kemerdekaan,
mereka mencari kehidupan yang nyaman dan ayah juga mendapat tawaran seperti itu
‘menjadi badut’. Kalimat ini yang membuat saya terenyuh, dimana Ayah berkata
seperti ini “menjadi wakil rakyat adalah sebuah panggung sandiwara, aku tidak
mau menjadi badut walaupun itu badut yang besar”. Mereka para wakil rakyat lupa
mereka hanya wakil, kan agak lucu juga ya? Yang nyaman kok wakilnya sedangkan
yang diwakili malah hidupnya yang sengsara. Alangkah lucunya negeri ini.
Jika
mengulik soal wakil rakyat, saya teringat pada salah satu teori sosiologi dramaturgi
dari Erving Guffman. Menurutnya, ada perbedaan akting yang besar saat aktor
berada di atas panggung (front stage) dan di belakang panggung (back stage)
drama kehidupan. Bisa saja terjadi kekacauan antara apa yang seharusnya terjadi
di belakang panggung dengan apa yang nantinya akan terjadi di depan panggung. Teori
tersebut bisa dicerminkan pada Dewan Perwakilan Rakyat yang Mengesahkan UU
Cipta Kerja pada Oktober 2020 lalu.
Front
Stage, adanya peran DPR saat belum terpilihnya hingga berhasil menduduki kursi
legislatif dan menjadi wakil rakyat mereka mengumbarkan janji serta visi dan
misi untuk mereka terapkan kedepannya dengan tujuannya demi kesejahteraan
masyarakat. Di depan publik mereka siap untuk menampung dan menyalurkan
aspirasi rakyat.
Back
Stage, nyatanya mereka dalam membuat, merancangkan, dan juga mengesahkan
undang-undang cipta pada bulan Oktober 2020. Hal tersebut mereka lakukan secara
diam-diam dan terkesan terburu-buru tanpa persetujuan dari masyarakat dan
mengabaikan suara masyarakat terutama para buruh yang terdampak secara langsung
dalam pengesahan UU Cipta kerja. Tentunya mereka sebagai wakil rakyat membela
buruh, karena banyak kebijakan yang diambil atau dikeluarkan pemerintah yang
cukup membebani masyarakat.
Sebenarnya
masih banyak hal yang dapat dibahas dalam buku ini, baik itu kritik sosial,
konflik keluarga, dan hal lainnya. Namun, ada suatu hal yang membuat saya merasa
terenyuh dan menangis saat memdiskusikannya. Dimana tokoh ayah yang hidupnya
memiliki berbagai masalah, namun ia masih mengambil kebahagian dengan bermain judi
besama kerabatnya. Saya tidak mau melihat atau menilai baik atau buruknya
perilaku tersebut. Tetapi saya hanya ingin mengambil makna atas perilaku
tersebut. Betapa mudahnya hidup dijalani, meskipun dalam kesengaraan kesusahan
itu sang Ayah masih bisa menikmati kebahagiaanya. Sesusah-susah dan mau
sebanyak apapun masalah yang dimiliki seseorang, ada saja momen kebahagiaan
yang masih bisa dinikmati, meskipun itu dengan cara yang sederhana. Hal itu
yang membuat saya menjadi terharu bahkan menikan air mata. Mungkin saya sedang rindu
akan suatu momen bersama kerabat..
Hal
baper itulah yang menjadikan buku ini memiliki kelebihan bagi saya. Selain dari
sisi perasaan, penilaian buku dengan halaman yang tidak terlalu banyak dan
penulisan cerita yang cukup sederhana, membuat pembaca cepat memahaminya, jika
dibandingkan karya Pram yang lainnya. Namun, sangat disayangkan tulisan yang
masih bergaya jadul dengan ejaan lama membuat pembaca merasa malas.
Secara
keseluruhan buku ini dapat memberikan manfaat secara moril sekaligus gambaran
kehidupan pada saat dahulu yang rasanya tidak jauh berbeda dengan zaman
sekarang. Selain itu, buku ini sangat cocok dibaca oleh siapa pun, terlebih
saat anda membaca pada kondisi yang sedang emosional, kemungkinan anda akan
meresa terhanyut dalam emosi hingga meneteskan air mata seperti saya.

Kangen
ReplyDelete